Meja Dapur

Suatu Pemikiran Tentang Childfree

43 comments
Childfree

Assalamualaikum

Halo sobat kesayangan Bunda? bagaimana hari-harimu? hmmm.... semoga selalu cerah dan ceria, seindah mentari pagi dan selalu damai seperti sejuknya malam.

kupu

Hayo... pasti pada mau komentar, ini kok Bunda ikut-ikutan bicara tentang childfree sih? mau membahas dari perspektif apa nih Bun?

Bismillah

CHILDFREE

Awalnya Bunda bingung dengan istilah yang viral belakangan ini. Namun setelah menelaah penjelasannya, akhirnya Bunda mahfum dengannya. Dan dalam kesempatan ini Bunda ingin berbagi pemikiran tentang childfree dari kacamata seorang Ibu. 

Childfree adalah sebuah keputusan atau pilihan hidup untuk tidak memiliki anak, baik itu anak kandung, anak tiri, ataupun anak angkat. 

Fenomena ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru, dan penggunaan istilah ini pun baru mulai muncul di akhir abad 20. Perkembangan zaman membuat mereka yang memilih pemahaman ini berani mengungkapkan keputusan secara terbuka.

Pilihan untuk memiliki atau tidak memiliki anak adalah komitmen seumur hidup, yang harus disepakati ketika sepasang lelaki dan perempuan mengikatkan diri dalam suatu pernikahan.

Sebelum berbicara lebih jauh tentang childfree, ada baiknya kita pahami dulu  tujuan dari pernikahan atau berumah-tangga. 

Pernikahan, Tujuan & Konsekwensinya

Pernikahan adalah sebuah ikatan yang disepakati oleh dua insan manusia untuk hidup bersama dan saling menyayangi dalam setiap jalan hidup yang dilewati. 

Berdasarkan undang-undang di negara kita, pernikahan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan ke-Tuhan-an Yang Maha Esa.

Dari penjelasan tersebut, jelas ada landasan agama ketika pernikahan dilaksanakan. Oleh sebab itu, pernikahan hanya dapat dilakukan antara dua orang, yakni pria dan wanita. Keduanya dipersatukan sebagai pasangan suami istri untuk memperoleh keturunan dan berusaha untuk menjalankan ibadah berdasarkan keyakinan di dalamnya.

Sejatinya ketika pernikahan dilakukan, pasangan itu haruslah memiliki ikatan secara lahir dan batin supaya dapat mengarungi rumah tangga dengan penuh kesetiaan, ketulusan dan kesabaran.

Tujuan pernikahan;

  • memenuhi kebutuhan dasar manusia, yang terdiri dari kebutuhan emosional, biologis, rasa saling membutuhkan dll
  • mendapatkan ketenangan hidup, karena keduanya dapat saling melengkapi, memberi dukungan, penghargaan dan kasih sayang.
  • menjaga akhlak, karena menikah adalah jalan menghindarkan diri dari dosa zina
  • meningkatkan ibadah pada Allah SWT
  • memperoleh keturunan yang saleh dan shalehah

Bila dilihat dari konteks agama, semua merujuk pada hal yang sama dan tentunya berharap akan adanya anak, yaitu generasi penerus yang tumbuh dari keluarga baru tersebut.

Family

Selain dari itu, pasangan juga harus siap dengan kosekwensi yang menyertai;

  • Menerima bukan hanya kelebihan pasangan, tapi juga kekurangannya
  • Saling terbuka, berbagi peran dan tanggung jawab
  • Menerima keluarga pasangan, apalagi untuk budaya timur seperti di Indonesia
  • Berbagi waktu dan kepentingan. Bukanlah tetang 'aku', tapi ini mengenai 'kita'
  • Siap untuk mempunyai anak
  • Berkurangnya waktu bersama teman dan sahabat
  • Kebutuhan yang meningkat
  • Timbulnya perselisihan yang harus dihadapi dengan bijaksana

Setelah memahami makna pernikahan, tujuan dan konsekwensinya, barulah kita bisa membahas tentang childfree.

Mengapa Childfree?

Beberapa rujukan yang Bunda baca terkait childfree, rata-rata mengarahkan jawaban pada hal-hal berikut;

  • Ketidak-siapan mental menjadi orangtua. Pada dasarnya semua orangtua tidak mempunyai cukup ilmu untuk mendidik anak, namun mereka bisa belajar. Pada masa penuh keterbatasan yang lalu, anak-anak yang saat ini sudah menjadi orangtua, bisa dibesarkan, dibimbing dan dididik dengan baik. walau sebagian dari orangtuanya tidak mengenyam pendidikan tinggi. Sedangkan di masa kini, pengetahuan tentang pendidikan anak bertebaran untuk di pelajari, baik secara keilmuan maupun agama. Apakah tidak berlebihan bila keengganan untuk belajar dan berusaha menjadi landasan keputusan tidak memiliki anak?
  • Faktor Ekonomi. Banyak anak banyak rejeki adalah perumpamaan yang digaungkan pada masa orangtua kita tumbuh. Mungkin ketika itu kebutuhan belum terlalu banyak dan rasa menerima apa adanya masih lebih mendominasi. Hal tersebut tidak lagi berlaku untuk saat ini, karena kebutuhan setiap orang sudah semakin kompleks. Namun, apakah tidak berlebihan bila ini dijadikan alasan untuk menolak kehadiran anak?
  • Situasi lingkungan. Beberapa referensi mengatakan bahwa faktor demografi, padatnya penduduk, menjadi salah satu alasan keengganan pasangan muda untuk memiliki anak. Mereka tidak mau menambah beban bumi tempat tinggal kita. Ini membuat Bunda tidak bisa berhenti berpikir, why?. Bertambahnya populasi, diiringi juga dengan berkurangnya jumlah manusia karena kematian. Walau selisihnya tidak signifikan, namun apakah itu bisa menjadi alasan?
  • Masalah biologis/ kesehatan, tentunya ini bisa menjadi alasan dikarenakan faktor di luar kuasa pasangan tersebut. Namun sebagian besar dari mereka justru tidak tinggal diam, akan terus mengupayakan dengan berbagai cara. 

Sobat Bunda, mungkin sebagian dari kalian tidak sependapat dengan Bunda, it's ok, tidak apa-apa.

Sama seperti sebagian orang manggut-manggut saja, menerima alasan keputusan untuk childfree, Bunda berharap kalian juga bisa manggut-manggut saja menerima pemahaman orang lain yang tidak setuju dengan childfree.

Dampak Childfree

Ketika childfree diputuskan oleh pasangan dengan pertimbangan internal mereka, itu tentunya akan menjadi urusan pribadi. Mungkin yang akan bertanya-tanya dan merasa tidak nyaman adalah keluarga, mengingat pernikahan itu adalah juga menyatukan keluarga besar. Mereka tentunya berharap dapat segera menimang cucu sebagai penerus keturunan. 

Namun ketika ini dilontarkan keluar, tentunya keputusan childfree tidak lagi menjadi sederhana, karena ada konsekwensi yang mengiringi;

  • akan timbulnya pro-kontra di masyarakat, dan yang repotnya bila sampai menimbulkan perdebatan yang tak kunjung berakhir
  • stigma yang muncul bukan hanya mengganggu pasangan tersebut, juga akan mempengaruhi keluarga
  • tekanan psikologis lingkungan, juga bisa mempengaruhi hubungan pasangan tersebut

Pendidik dan pemerhati isu muslimah, Ustazah Elizabeth Diana Dewi mengatakan, sangat penting untuk mengetahui latar sejarah suatu ide atau pemahaman sebelum mempraktekkannya. Menurutnya, childfree adalah konsep yang dicetuskan oleh para feminis yang menggaungkan politic of body atau politik tubuh. Sebuah konsep yang dibawa oleh para feminis radikal.

Selain itu, Menurut Denrich Suryadi, psikolog Universitas Tarumanegara, keadaan psikologis seseorang adalah faktor yang paling dominan berperan sebagai latar belakang penyebab pilihan childfree. Adanya trauma masa kecil dan hubungan yang tidak hangat dengan orangtua bisa memunculkan rasa insecure dalam diri.

Perasaan insecure itu lantas berdampak pada keyakinan bahwa seseorang tidak akan mampu jadi orangtua yang baik bagi anaknya kelak. Misalnya, korban child abuse yang khawatir dia bakal memberikan anaknya perlakuan yang sama seperti yang pernah dia terima dari orang tuanya. Sehingga tak heran jika trauma pola asuh orangtua itu kemudian membuat hubungan keluarga menjadi rusak. Si anak pun tak menganggap pentingnya arti keluarga.

Nah, ini sepaham dengan Bunda. 

Bila seseorang tumbuh dalam kehangatan keluarga, tentunya dia akan merasa sangat bahagia dan selalu mengingat kenangan manis masa kecilnya, dan tentu ingin membaginya dengan sang anak, buah hatinya. Dia akan menanamkan kebaikan dan kehangatan yang sama, agar kebahagiaan yang dia miliki juga di dapat oleh anaknya.

Solusi Menghadapi Pemahaman Childfree

Childfree tidak bisa dianggap remeh, apalagi bila sudah digaungkan oleh publik figure yang memiliki banyak penggemar. Tidak tertutup kemungkinan, mereka akan meniru idolanya tanpa memahami alasan dari keputusan yang tidak biasa tersebut, semata-mata hanya karena fanatisme semata.

Beberapa hal berikut bisa menjadi pilihan solusi menghadapi pemahaman childfree;

  • Memberikan pengertian, pemahaman dan pendidikan bahwa menikah itu adalah ibadah
  • Keterlibatan dan bimbingan orangtua ketika anak memilih pasangan
  • Peran pendidik juga diperlukan untuk mengingatkan dan memberi pemahaman
  • Dorongan dari pemerintah, berupa kebijakan-kebijakan yang mendukung masyarakat agar merasa aman untuk berkeluarga, membangun generasi, punya anak
  • Mengkampanyekan nilai-nilai agama agar lebih bisa dipahami dan diresapi

Alhamdulillah
Setiap mahluk hidup akan berkembang biak, salah satunya untuk mempertahankan hidup dan spesiesnya

Nah Sobat, sudah cukup panjang  Bunda menyampaikan pemikiran tentang childfree. Bukan tanpa alasan ini disampaikan, karena tak terbayang bila childfree menjadi paham yang meluas. Akan seperti apa tatanan kehidupan berkeluarga, bermasyarakat dan beragama? 

Bila dikembalikan kepada 'hak' jelas bahwa ini adalah pilihan yang sepenuhnya di bawah kendali dan tanggung jawab masing-masing individu. Bicara tentang 'hak' tentunya, orang di luar lingkaran diri 'tidak boleh' mencampuri. 

Sebagai seorang ibu, setidaknya Bunda memberikan sedikit pemahaman dari sisi yang sangat sederhana, agar keputusan memang pilihan yang sudah benar-benar dipertimbangkan masak-masak, untuk diri sendiri, keluarga kecil dan pasangan, keluarga besar, lingkungan, agama dan masyarakat. Pilihan yang sifatnya individu, namun dampaknya akan meluas bila tidak disertai kebijaksanaan dalam penyikapan. 

Terucap kata, aku tak mengapa. Tak terucap kata, aku tak mengerti mengapa? 

Love

Marilah kita sama-sama asah, asih dan asuh lagi keluarga, agar bisa selamat di dunia dan di akhirat.

Insya Allah Bunda akan terus berbagi informasi dan pemikiran di Meja Dapur blognya Bunda Dina. Jangan lupa ikuti juga Instagram dan Facebook Bunda ya.

Terima kasih sudah mampir dan dengan senang hati Bunda menerima kritik dan saran yang bertujuan membangun.

Wassalam


By. Bunda Dina


Bagi siapapun yang ingin menjadikan artikel ini sebagai referensi, tolong cantumkan link di artikelnya. Mohon tidak untuk copas ya. Terima Kasih
Bunda Dina
Rasa ingin tahu, membuat aku jadi ingin berbagi. I love it

Related Posts

43 comments

  1. Awalnya aku juga belum paham tentang childfree ini, setelah baca" artikel temen" jadi lebih tau, tapi sayang sekali ya kalau ada orang yg tidak ingin memiliki anak.. Padahal adanya anak sendiri itu merupakan suatu rezeki :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Manusia telah diberi akal dan budi untuk dipergunakan sebaik-baiknya. Lalu di beri iman juga untuk mengawalnya agar tidak lari dari jalurnya

      Delete
    2. Betul sekali bunda..
      Semoga akal dan budi kita bersama dengan iman bisa bersama-sama berjalan dengan semestinya. Semoga kita khususnya saya sendiri bisa dan mampu membesarkan anak" dengan baik. Aamiin^^.

      Delete
  2. Jadi ingin berbagi pendapat, nih Bunda. Buat saya sendiri sih nggak salah untuk memilih childfree kalau dirasa nggak ada keinginan punya anak, nggak siap, dll. Apalagi kalau tujuannya *belum* siap, mungkin ada yang ingin menunda dan punya anak di kemudian hari. Tapi beberapa alasan yang disebutkan di atas seperti mental, ekonomi, lingkungan, dan lain-lain, apakah cukup menjadi alasan? Menurut saya sih iya, karena daripada menjadi orang tua yang terpaksa, mending nggak punya anak saja, malah kasihan anaknya kalau dibuat karena terpaksa tekanan orang-orang sekitar. Komitmen punya anak itu kan sangat besar. Apalagi kalau dibuang di tengah hutan atau digugurkan, kalau dari awal nggak ingin punya anak, lebih baik dicegah saja supaya nggak melukai siapa-siapa. Menurut saya baik juga kalau orang-orang yang ingin punya anak memilih dengan sadar supaya sudah siap lahir batin dari sebelumnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yap benar, semua adalah pilihan dan perlu alasan.
      Namun kalau dikembalikan lagi ke belakang, pada dasarnya tidak ada pasangan yang benar-benar siap untuk memiliki dan membesarkan anak.
      Allah memberi karunia ilmu untuk dipergunakan.
      Satu sisi lagi, semua akan terjadi by proses, bukan ujug-ujug.

      Yang Bunda soroti disini sih lebih kepada kekhawatiran, bila pemahaman ini dijadikan ajang ikut-ikutan karena publik figure yang membukanya ke khalayak ramai. Ybs pasti punya alasan, fansnya bagaimana? Hanya karena ikut-ikutan. Ini yg akan mengkahawatirkan, fenomena baru, ikut-ikutan childfree

      Delete
    2. Aku jadi teringat akan sebuah pesan seorang guru, "siap menikah artinya siap menjadi orang tua"

      Rasanya ini harusnya menjadi alasan menumbangkan ketidak siapan. Apalagi memang betul tidak ada yg benar2 siap jadi orang tua

      Ya meski lagi2 semua dikembalikan pada keputusan masing2 pasangan.

      Kalo nunda setahun dua tahun artinya bukan childfree ya, tapi kalo memutuskan selamanya ndak mau punya anak maka aku mikirnya kira2 ke depan bumi ini penduduk produktifnya apakah lebih kecil dr usia lansianya.

      Sedih sekali ..mental, ekonomi lingkungan memang di saat2 ini menjadi alasan kuat aplagi pikiran anak milenial yg sangat open minded. Tentu mereka ada pertimbangan menurut gaya pikir mereka.

      Tapi sekali lagi, sehebat pemikiran manusia. Bagi yg muslim perlu membaca lagi pedoman hidupnya yakni al quran dan hadits.

      🙏🙏🙏🙏

      Delete
  3. Bicara childfree memang akan menjadi perdebatan,,,
    Tapi secara fakta memang ada tatanan atau norma yang berubah, misalnya hilangnya fungsi keluarga...
    Apapun itu, childfree sebuah pilihan yang sudah siap dgn konsekuensinya...

    Saya sepakat dengan bunda, bahwa perlu kampanye tentang pemahaman agama

    ReplyDelete
  4. Inti dasar dari kampanye2 childfree adalah krna kurangnya iman ya Bun, emang betul harus dibenahi dlu dasarnya yaitu pemahaman tentang akidah dan tauhidnya dulu..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba aku setuju, soalnya kan salah satu tujuan menikah adalah punya anak, dan Rasulullah akan berbangga dengan jumlah umatnya yang banyak

      Delete
    2. nah itu. tapi mau dikomentarin gitu, ntar tersinggung pula... hehe...

      Delete
  5. Benar banget kata Bunda ini bukan sesuatu yang baru,cuma menjadi viral gegara keingininan ini diungkapkan di masyarakat. Yang mana masyarakat kita masih punya pemikiran jika menikah itu berarti HARUS punya anak.

    Andai tidak diungkapkan di media, tentu ga akan ribut. Karena ini masuk ke ranah sensitif dan pribadi sekali.

    ReplyDelete
    Replies
    1. benar sekali. fans itu kadang terlalu memuja sehingga meniru tanpa berpikir

      Delete
    2. Betul Bun, nah kan jadi kalau kayak Bunda yang sudah makang melintang di dunia menulis, pasti sudah banyak fansnya.

      Delete
  6. Sebenernya yang waktu itu bikin gatel pingin komentar pas public figure ini menyuarakan soal keputusannya childfree adalah: katanya, kemungkinan mereka ga punya anak itu jauh lebih besar daripada punya anak. Saya rada gagal paham gitu sih, Bun. Soalnya saya bukan childfree, tapi memang dalam program ngasih jarak usia antar anak. Udah coba pakai program KB dan tetep bisa gagal. Jadi, kok bisa mereka kayak gitu? Bukannya dikasih anak atau ngga juga bagian dari takdir Allah yang kadang kita udah mengusahakan untuk nunda, tapi tetep bisa dikasih juga?

    Maaf jadi curhat, Bunda :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya begitulah manusia, kadang "keminter". Merasa sudah paham dan langsung membuat statement. Coba lihat, banyak orang yg seperti itu. Nanti belakangan kalau salah, dengan entengnya say sorry... tidak berpikir panjang akan dampak dll.
      Gak kebayang bagaimana perasaan orangtuanya membaca / mendengar statement anaknya seperti itu.

      Delete
  7. masya Allah terima kasih Bunda untuk sharingnya, dapet banget pencerahannya, bukan hanya dari child free aja melainkan dari segi nilai berkeluarga serta nilai dalam mencetuskan pemahaman baru. Setuju banget kalau berkeluarga itu memang mengarah ke memiliki keturunan. Dan setuju juga dengan ucapan Ustadzah Elisabeth Diana Dewi yang mengatakan bahwa perlu banget paham sejarah dan latar belakang suatu ide, bisa banget ini dipakai selain dalam mencetuskan ide childfree atau ide-ide yang asing di telinga, wallahuallam.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama say. semoga kita selalu istiqamah dan dalam lindungan Allah SWT

      Delete
  8. Saya gak habis pikir kenapa masih ada orang yang menikah tapi pinginnya child-free. Pelajaran agama memang sangat kurang porsinya di Indonesia. Harus ditambah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayaknya bukan pelajarannya saja yang kurang Pak, tapi pemahaman dan kualitas guru agama juga harus ditingkatkan. Bukan berarti yang saat ini kurang lho, masalahnya anak-anak sekarang yang terlalu canggih, jadi pendampingnya juga harus mengejar biar pemahamannya bisa nyambung.

      Delete
    2. Kadang ilmu dari "guru online" lebih didengar, yang sumbernya bisa antah berantah

      Delete
  9. Apapun alasannya saat semakin terdengar gaung dari childfree, akn menggeseer tujuan utama dari pernikahan yang ada.

    ReplyDelete
  10. Kalau aku sih bebas aja orang mau childfree atau nggak. Asalkan jangan speak up atau meng influence orang lain, apalagi yg sebetulnya nggak ada issues apa2 misalnya infertilitas, mental, dll. Karena dalam agama (Islam) dah jelas banget kedudukan pernikahan, dibahas juga tentang anak alias keturunan, hak anak, kewajiban oranag tua. dll :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya bener... ini ranah pribadi yang di buat jadi publik...

      Delete
  11. lagi booming banget pembahasan tentang Childfree nih bun, jadi tahu di luar sana ternyata ada orang yang memutuskan seperti ini. kadang sedih ketika banyak pasanagn yang merindukan momongan, ada juga yg menolaknya, hiks

    ReplyDelete
    Replies
    1. ada kasus seorang psikolog yang tidak bisa punya anak karena kesehatan, harus berbicara tentang childfree. Dia cerita sama Bunda bagaimana geram dan sedihnya dia mendengar keinginan pasangan gak punya anak, sedangkan dia tak lelah berjuang untuk bisa punya anak.

      Delete
  12. PR besar untuk kita semua agar kembali belajar agama, tentang fungsi keluarga dan juga hidup pada umumnya, sehingga tidak ada kata tidak siap untuk hidup, termasuk untuk berkeluarga dan mempunyai anak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tak ada orangtua yang benar-benar siap punya anak, tapi mau belajar bersama-sama. Bukannya malah mundur dengan berbagai alasan pembenaran

      Delete
  13. Kadang-kadang mendengar fenomena ini rasanya aneh gimana gitu, ketika ada banyak pasangan tengah berjuang untuk bisa menghadirkan tangisan buah hati, kenapa child free malah dijadikan trend,.

    ReplyDelete
  14. Tahun 90an sudah ada seorang feminis yang memilih tidak menikah dan kalaupun menikah, pilih childfree. Dia bilang itu pilihannya.
    Tapi kemudian ternyata menikah dan punya anak.
    Jadi pas denger kayak begini lagi, nggak aneh.
    Mudah-mudahan selepas menikah, naluri keibuannya muncul

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh ada ya, mgkin dia memyadari bahwa dia menua dan butuh ada generasi sebagai ahli warisan atau mempertahankan keturunannya gtu ya.

      Atau dapat hidayah kali ya..

      Delete
  15. Awal kemunculan trend ini aku sempet kaget mbak, jujur, karena di lingkungan saya, yang bertahun tahun menikah sangat ingin memiliki momongan dengan ikhtiar kemana mana, apa saja dilakukan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya begitulah warna-warni kehidupan di dunia, dimana kita kadang harus menerima warna yang kita tidak suka, sambil berharap suatu saat warna kan berubah

      Delete
  16. Up and down issu seperti ini. Dulu pernah ada, lalu tengelam, kemudian di up lagi trus rame lagi. Apapun itu hidup ini pilihan. Kitab tak bisa memaksakan pilihan hidup orang lain. Mereka yang menjalani, mereka juga yang akan merasakan akibatnya.

    ReplyDelete
  17. Mungkin nanti akan ada saat, di mana mereka menyadari bahwa ketika menua, kita butuh seseorang untuk meneruskan generasi dan melanjutkan perjuangan kita.

    Islam mengatur semuanya dengan indah

    ReplyDelete
  18. selalu ada pro dan kontra ya, Bundaa, sebuah pilihan hidup masing-masing :3

    ReplyDelete

Post a Comment